بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
nuruldiniindriyani.blogspot.co.id. Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 11 Januari 2013

Agama dan Masyarakat

1. Fungsi Agama

Fungsi Agama dalam Masyarakat



Ada beberapa alasan tentang mengapa agama (fungsi agama) itu sangat penting dalamkehidupan manusia, antara lain adalah :

  •  Karena agama merupakan sumber moral
  • Karena agama merupakan petunjuk kebenaran

  • Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.

  • Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupundi kala duka.



Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78



“ Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Diamenjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.”



Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macamgodaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan dari dalamdiri manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu : 
 

  • Godaan dan rayuan yang berusaha menarik manusia ke dalam lingkungan kebaikan yang menurut istilah Al - Gazali dalam bukunyaihya ulumudin disebut dengan maklak Al-hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah atau kebaikan. 

  • Godaan dan rayuan yang berusaha memperdayakan manusia kepada kejahatan,yangmenurut istilah Al-Gazali dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatanyang berusaha menarik manusia kepada kejahatan

Disinilah letak fungsi agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusiakejalan yang baik dan menghindarkan manusia dari kejahatan atau kemungkaran.



Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan olehfungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup.Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yangdihuraikan di bawah:



  • Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.

 Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia senantiasa memberi penerangan mengenai dunia (sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia didalam dunia. Penerangan bagi perkara ini sebenarnya sukar dicapai melalui indra manusia,melainkan sedikit penerangan dari falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWT dan setiap manusia harus menaati AllahSWT.



  • Menjawab pelbagai persoalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.

 Sebagian persoalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan persoalan yangtidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya persoalan kehidupan sesudah mati, matlamatmenarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, “fungsi agama”

menjawab persoalan-persoalan ini.



  •  Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.

 Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah keranasistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, malah tingkahlaku, pandangan dunia dan nilai yang sama.



  •  Fungsi sosial 

Kebanyakan agama di dunia adalah menyeru kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendirisebenarnya telah menggariskan kode etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka inidikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial



            Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifatnegatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah (desintegrative factor).Pembahasan tentang fungsi agama disini akan dibatasi pada dua hal yaitu agama sebagaifaktor integratif dan sekaligus disintegratif bagi masyarakat.


         Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakatmaupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal inidikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersamaoleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalammasyarakat.


            Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, danmemelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkaneksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agamadalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkanmenyalahkan eksistensi pemeluk agama lain.

Dimensi Komitmen Agama 



Menurut Roland Robertson (1984) dimensi agama terdiri dari beberapa bagian. Diantaranya adalah sebagai berikut :



Dimensi keyakinan mengandug perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akanmenganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajarantertentu.



Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secra nyata. Ini menyangkut hal yang berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religius formal, perbuatanmulia, berbakti tidak bersifat formal, tidak bersifat publik dan relatif spontan.



Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungandengan suatu perantara yang supernatural meskipun dalam waktu yang singkat.



Dimensi pengetahuan dikaitkan

dengan perkiraan bahwa orang-orang yang bersikapreligius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacarakeagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.



Dimensi konsekuensi dari komitmen religius

berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.


2. Pelembagaan Agama

Tiga Tipe Kaitan Agama dengan Masyarakat 


Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954), yaitu:
Masyarakat yang terbelakang dan nilai- nilai sakral
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat menganut agama yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat, dalam kelompok keagamaan adalah sama.
Masyarakat- masyarakat pra- industri yang sedang berkembang
Keadaan masyarakat tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tipe masyarakat ini. Dan fase kehidupan sosial diisi dengan upacara- upacara tertentu.
Masyarakat- masyarakat industri sekular
Masyarakat industri bercirikan dinamika dan teknologi semakin berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan, sebagian besar penyesuaian- penyesuaian terhadap alam fisik, tetapi yang penting adalah penyesuaian- penyesuaian dalam hubungan kemanusiaan sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai konsekuensi penting bagi agama, Salah satu akibatnya adalah anggota masyarakat semakin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menanggapi masalah kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular semakin meluas. Watak masyarakat sekular menurut Roland Robertson (1984), tidak terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya pemikiran agama, praktek agama, dan kebiasaan- kebiasaan agama peranannya sedikit.
 
Pelembagaan Agama 



Agama begitu universal, permanen (langgeng) dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila tidak memahami agama, akan sukar memahami masyarakat. Agama melalui wahyunya atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada manusia guna memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat dunia dan di akhirat, di dalam perjuangannya tentu tidak boleh lalai. Untuk kepentingan tersebut perlu jaminan yang memberikan rasa aman bagi pemeluknya. Maka agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin.

Agama menjadi salah satu aspek kehidupan semua kelompok sosial, merupakan fenomena yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja, yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan. Dan terbentuklah organisasi keagamaan untuk mengelola masalah keagamaan. Yang semula terbentuk dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi, kemudian menjadi organisasi kegamaan yang terlembaga.

 Lembaga keagamaan berkembang sebagai pola ibadah, ide- ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Tampilnya organisasi agama akibat adanya kedalaman beragama, dan mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan dan sebagainya.
 

3. Agama, Konflik, dan Masyarakat


Contoh-Contoh dan Kaitannya Tentang Konflik dalam Agama dan Masyarakat



            Terdapat  beberapa aspek agama yang membuatnya rentan menjadi sumber konflik. Semua agama memiliki apa yang diterima mereka, atau keyakinan, bahwa para pengikut harus menerima tanpa pertanyaan. Hal ini dapat menyebabkan kaku dan intoleransi dalam menghadapi keyakinan lainnya.
            Konflik bisa timbul atas interpretasi mana yang benar adalah, konflik yang akhirnya tidak dapat diselesaikan karena tidak ada wasit . Pemenang umumnya adalah interpretasi yang menarik pengikut yang paling. Namun, para pengikut juga harus termotivasi untuk bertindak. Meskipun, hampir selalu, sebagian besar agama apapun memiliki pandangan moderat, mereka sering lebih puas, sedangkan ekstrimis yang termotivasi untuk membawa interpretasi mereka atas kehendak Allah membuahkan hasil.
            Agama dalam satu sisi dipandang oleh pemeluknya sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain dianggap sebagai sumber konflik. Menurut Afif Muhammad : Agama acap kali menampakkan diri sebagai sesuatu yang berwajah ganda”. Sebagaimana yang disinyalir oleh John Effendi yang menyatakan bahwa Agama pada sesuatu waktu memproklamirkan perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan. Namun pada waktu yang lain menempatkan dirinya sebagai sesuatu yang dianggap garang-garang menyebar konflik, bahkan tak jarang, seperti di catat dalam sejarah, menimbulkan peperangan.
            Sebagaiman pandangan Afif Muhammad, Betty R. Scharf juga mengatakan bahwa agama juga mempunyai dua wajah. Pertama, merupakan keenggaran untuk menyerah kepada kematian, menyerah dan menghadapi frustasi.
          Kedua, menumbuhkan rasa permusuhan terhadap penghancuran ikatan-ikatan kemanusiaan. Fakta yang terjadi dalam masyarakat bahwa “Masyarakat” menjadi lahan tumbuh suburnya konflik. Bibitnya pun bias bermacam-macam. Bahkan, agama bias saja menjadi salah satu factor pemicu konflik yang ada di Masyarakat itu sendiri.

Sumber :








 Nurul Dini Indriyani
1KA27
15112529

ads

Ditulis Oleh : Nurul Dini Indriyani Hari: Jumat, Januari 11, 2013 Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar